Buku puisi ini adalah perayaan Gol A Gong setelah menikmati kopi di kota-kota di Pulau Sumatra. Mulai dari Nol Kilometer di Pulau Weh, lalu di kedai-kedai kopi di Banda Aceh, Bireun, Takengon, Blankejeren, dan Kutacane. Ada aroma lain dari setiap cangkir kopi yang ia hirup: aroma ketidakadilan. Suatu rasa lain dari kopi nusantara yang kita cintai ini.
"Belasan tahun menjalani hidup sebagai piatu, Cinta bahkan tidak tahu wajah ibunya. Ayah dengan sempurna melenyapkan setiap jejak perempuan terkasih itu. Saat Ayah menikah dengan Mama Alia, dan membawa dua saudara tiri, Cinta semakin tersisih. Ketika surga terenggut dari hari-hari Cinta, lelaki itu hadir. Makky Matahari Muhammad yang humoris namun santun itu, mengenalkannya pada duania lain ya…
Perempuan mana yang tak ingin hidupnya dipenuhi pendar kebahagiaan? Tetapi waktu sering kali tak menyisakan ruang untuk bertanya, bahkan sekedar menarik napas. Kartika tahu betul rasanya terabaikan dan kehilangan kepercayaan diri, justru disebabkan orang terdekat. Dia juga mengerti bagaimana menjadi yang terbuang. Tapi ibu, kasih sayangnya melimpah dalam sikap dan tutur kata. Senantiasa meniup…